Komputer
merupakan satu alat elektronik yang kompleks dan mempunyai banyak
kelebihan. Komputer didapati sesuai untuk dijadikan alat bagi membantu
guru dalam proses pengajaran pembelajaran kerana komputer berkemampuan
untuk menerima dan memproses data. Giesert dan Futrell (1990)
menegaskan bahawa seseorang guru yang menggunakan komputer dalam
pengajaran pembelajaran boleh dikategorikan sebagai mempunyai bakat dan
kebolehan tambahan. Pengajaran yang disertakan dengan bahan bantu
belajar yang terkini akan dapat menambahkan minat pelajar mempelajari
sesuatu bidang pelajaran. Di samping itu jika komputer dapat digunakan
secara sistematik dan berkesan oleh guru ia akan mampu menyelesaikan
sebarang masalah pengajaran pembelajaran. Ini selaras dengan pendangan
Heinich (1993) yang mengatakan bahawa komputer dapat memperkayakan
teknik pengajaran. Komputer adalah pelengkap kepada penyampaian
pengajaran yang berkesan. Sandholtz (1997) telah menyuarakan bahawa
penggunaan teknologi boleh memudahkan pengajaran pembelajaran.
Sehubungan
dengan itu, pihak kerajaan atau Kementerian Pendidikan khususnya
sentiasa mengadakan kursus pengenalan komputer dan membina bahan
berbantukan komputer bagi guru pelatih dan guru dalam perkhidmatan.
Oleh itu, satu program pendidikan komputer bagi guru pelatih bukan
sahaja merupakan pembelajaran mengenai komputer tetapi juga
pembelajaran berbantukan komputer.
Penggunaan Komputer Dalam Pengajaran Pembelajaran
Hilary
Mc Lellan (1991) menegaskan bahawa komputer dapat membantu guru
melaksanakan aktiviti pengajaran pembelajaran dalam bilik darjah.
Beliau menekan tentang kepentingan seseorang guru itu mempunyai
pengetahuan sekurang-kurangnya pada peringkat asas dalam mengendalikan
perkakasan dan perisian komputer sebelum mereka dapat menghasilkan
kaedah pengajaran yang berkesan dalam bilik darjah.
Diana
Laurillard (1992) menyatakan bahawa pembelajaran berasaskan komputer
dapat meningkatkan pemahaman konsep teoritikal. Beliau berpendapat
bahawa kaedah simulasi dan bantuan komputer dapat meningkatkan tahap
pemahaman pelajaran dengan mudah.
Heinich
(1993) menyatakan komputer berkemampuan untuk mengawal dan mengurus
bahan pengajaran yang banyak. Kemampuan komputer berinteraksi dengan
penggunanya membolehkan guru menerapkan pengajaran pembelajaran dengan
lebih mudah dan menarik. Pendapat ini disokong oleh Sandholtz (1997)
yang menyatakan bahawa penggunaan teknologi di sekolah boleh memudahkan
pengajaran pembelajaran. Maka dapat dikatakan bahawa komputer
mempunyai kelebihannya menjadi media yang sesuai dan berkesan dalam
konteks pengajaran pembelajaran dalam bidang pendidikan.
Persepsi Guru Terhadap Penggunaan Komputer Dalam Pengajaran Pembelajaran
Bliss
(1986) mengenal pasti beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan
pembelajaran berbantukan komputer di kalangan guru. Antara isu yang
penting ialah perubahan peranan guru. Melalui kajiannya, terdapat guru
yang mempunyai sikap bimbang dan tidak yakin terhadap diri sendiri
untuk menguasai teknologi baru.
Dalam
aspek keyakinan dan keselesaan menggunakan teknologi komputer, Heywod
dan Norman (1988) serta Blease dan Cohen (1990) mempunyai dapatan yang
sama. Menurut dapatan mereka, apa yang dititikberatkan oleh guru adalah
keyakinan dan keselesaan dalam menggunakan komputer. Somekh (1989)
juga mempunyai dapatan yang hampir sama. Somekh mendapati bahawa
pengalaman guru yang negatif atau tidak berkesan semasa mencuba
menggunakan komputer akan mendorong guru untuk menolak inovasi komputer.
Rhodes
dan Cox (1990) mendapati peningkatan beban kerja telah menghalang
penggunaan komputer di kalangan guru. Di samping itu, kekurangan
perisian yang berkualiti juga menyebabkan guru menganggap bahawa
penggunaan komputer dalam pengajaran pembelajaran tidak berkesan.
Berdasarkan dapatan kajian, persepsi guru terhadap penggunaan komputer
dalam pengajaran pembelajaran adalah penting untuk menentukan kajayaan
atau kegagalan penggunaan komputer dalam alam pendidikan.
Peranan Guru Dalam Penggunaan Komputer Dalam Pendidikan
Menurut
Woodrow (1992), kejayaan dalam apa jua inovasi pendidikan atau program
teknologi pendidikan banyak bergantung kepada sokongan dan sikap guru.
Menurut Sufean (1991), sikap yang positif lahir daripada keinginan dan
motivasi yang tinggi terhadap sesuatu perkara. Keberkesanan penggunaan
teknologi moden banyak bergantung kepada guru yang rela menukar dan
mencuba kaedah pengajaran yang baru dan moden (German, 1997).
Dupagne
dan Krendl (1992), semasa membuat ulasan karya tentang sikap guru
terhadap komputer, mendapati bahawa pengalaman menggunakan komputer
dapat memupuk sikap positif terhadap teknologi komputer. Guru
memerlukan masa dan kefahaman tentang bagaimana teknologi dapat
menolong mereka (Chin dan Hortin, 1996). Mengikut Gan (1991), guru
hanya akan menggunakan komputer bila sudah biasa dan berasa selesa
dengan penggunaannya.
Komputer dan Pendidikan
Tanggung jawab sekolah yang besar dalam
memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa untuk mengahadapi
tantangan-tantangan dalam masyarakat sangat cepat perubahannya. Sala
satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi
pekerja yang bermutu. Kemampuan berbicara dalam bahasa asing dan
kemahiran komputer merupakan dua kriteria utama yang pada umumnya
diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (
dan di seluruh dunia ). Mengingat sekitar 20-30 % dari lulusan SMU di
seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan
tinggi, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang
kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar
terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan
kemahiran komputer bagi para siswa kita.
Biaya yang dibutuhkan untuk mempersiapkan belajar komputer di sekolah akan mahal.
Bagaimana pemerintah akan mampu membiayai pembangunan ini ?
Memberikan apa yang dibutuhkan, bagaimana pemerintah dapat mengelak untuk tidak membiayai pembangunan ini ?
Apakah pemerintah harus membiayai secara penuh untuk pembangunan ini ?
Dalam menghadapi masalah ini beberapa sekolah
swasta dan negeri yang telah mengambil langkah maju. Pada beberapa
sekolah mereka telah membangun hubungan yang sangat erat dengan
masyarakat setempat dan melakukan sebuah lompatan yaitu dengan
mengundang para masyarakat penyumbang untuk membangun fasilitas dasar
komputer. Sekolah ini telah membuktikan bagaimana mengatasi salah satu
masalah terbesar dalam pengenalan teknologi ke sekolah-sekolah di
Indonesia secara berkesinambungan. Keefektifan system yang
berkesinambungan ini sudah tumbuh lama ketika masyarakat setempat
memahami bagaimana pentingnya teknologi bagi anak-anak mereka. Dalam
hal ini kami telah mempelajari bahwa, sekolah-sekolah yang bekerjasama
dengan masyarakat setempat untuk membangun fasilitas cenderung
berkembang secara teratur dan juga meningkatkan dukungan dari
masyarakat setempat.
Kesinambungan adalah faktor utama. Pada program
di masa lalu untuk menyediakan teknologi ke sekolah kebanyakan
mencapai sedikit sukses dalam jangka waktu yang cukup lama dan jarang
sekali menunjukkan perkembangan. Persyaratan mengenai laboratorium
bahasa adalah contoh yang umum. Biasanya ada enam masalah utama, yaitu ;
Anggaran untuk perawatan fasilitas awal tidak tersedia.
Pelatihan biasanya terlalu spesifik dan tidak berhubungan dengan kebutuhan di lapangan atau perubahan sikap.
Tidak tersedianya karyawan untuk perawatan rutin dan pengembangannya.
Tidak tersedianya teknisi ahli atau terlalu mahal
Materi yang sesuai untuk mengajar tidak tersedia
Lemahnya kondisi kerja guru di lapangan mendorong bahwa mereka tidak
dapat membagi waktu untuk mengembangkan materi mengajar secara
kreatif.
Masalah-masalah ini menjadi lebih luas dalam
hal komputer karena tingkat keahlian yang diminta untuk mengembangkan
dan merawat fasilitas tersebut sangat tinggi serta kemahiran komputer
mempunyai nilai jual yang sangat tinggi pula. Saran untuk memberi
pelatihan karyawan di sekolah tidak berlaku dalam konteks yang ada saat
ini. Karena siapa saja yang mengembangkan diri untuk mencapai posisi
tingkat ahli, mereka di sektor komersil dapat menghasilkan sepuluh kali
lipat dari apa yang mereka dapat di sekolah, jadi mungkin saja mereka
akan menghabiskan waktu dengan pekerjaan dari luar kantor (hal ini juga
menjadi masalah pada karyawan yang memiliki kemampuan di bidang jasa
umum).
Bagaimana caranya di beberapa sekolah berhasil membeli komputer, yang mahal dan memerlukan biaya perawatan yang cukup tinggi?
Hanya sedikit sekolah yang berlokasi
dilingkungan yang makmur, di mana kelompok orang tua-guru dapat
mencapai sejumlah besar uang secara mudah. Walaupun begitu beberapa
sekolah yang lain berada di tengah lingkungan di mana tingkat
social-ekonominya rendah, tetapi mereka juga berhasil mencapai tingkat
yang sama dalam hal pencapaian di bidang pengembangan komputer dan
fasilitas lain di lingkungan sekolah mereka. Dua contohnya yaitu SMUN 2
Wonosari di Daerah Istimewa Yogyakarta dan SMUN 23 di Bandung, Jawa
Barat. Pendekatan awal yang dilakukan mereka terhadap pengembangan
sekolah adalah serupa tapi tak sama. Keduanya menyusun kerberhasilan
mereka dengan cara kooperatif dan bekerjasama dengan masyarakat
setempat. Walaupun demikian SMUN 2 di Wonosari bergantung kepada
penentuan dan pengembangan dari para karyawan itu sendiri. Sedangkan
SMUN 23 di Bandung berinisiatif menentukan programnya melalui peranan
enterprenur dan mendapatkan sumbangan dari masyarakat dan industri.
Tanpa mengindahkan cara pendekatan yang di
tetapkan, sekolah anda dapat memutuskan untuk mengambil beberapa butir
penting, yaitu sekolah harus benar-benar obyektif, berkomunikasi
pro-aktif terhadap tujuan tersebut, menguntungkan masyarakat setempat
dan harus terbuka serta 100 % transparan. Hal ini penting sekali bahwa
pengembangan harus direncanakan dengan seksama sehingga meningkatkan
kwalitas lulusan pendidikan bagi siswa dapat secara mudah dibicarakan
dengan masyarakat. Akan mengherankan sekali jika melihat berapa jumlah
dukungan ekstra yang akan dicapai dari masyarakat apabila dibangun suatu
“kepercayaan” dan mereka “memahami” akan keuntungannya bagi anak-anak
mereka.
Peralatan – perangkat keras apa saja yang diperlukan?
Peraturan yang ada sekarang ini, membatasi
jumlah maksimum per kelas untuk 48 siswa. Sementara itu untuk kebutuhan
ideal tersebut diperlukan 48 komputer, hal ini menjadi target yang
tidak realistis bagi semua sekolah di Indonesia saat ini. Beberapa
sekolah telah menunjukkan kepada kami bahwa mereka memulai keberhasilan
program ekstra-kurikuler sekolahnya hanya dengan jumlah komputer yang
terbatas, melalui penjadwalan ketat. Penulis percaya bahwa target
realistis terdekat dalam pertengahan waktu adalah menjadi 24 komputer.
Pada kenyataannya hampir seluruh kelas berisi di bawah 48 siswa jadi
angka perbandingan bagi siswa terhadap komputer tidak lebih dari 2 :1.
Berbagi komputer selama masa awal tahap pelatihan komputer dapat
memberikan keuntungan untuk membantu membangun rasa percaya diri dan
juga memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih mahir, sehingga
mereka dapat membantu siswa yang lemah (meningkatkan efisiensi guru).
Hal ini bukan berarti sekarang anda harus membeli 24 komputer. Anda
bisa memulai program dasar ekstra-kurikuler hanya dengan 2 komputer.
Yang terpenting adalah anda memiliki rencana, membuat pengaturan untuk
melatih dan memepersiapkan karyawan anda, serta mulai untuk membicarakan
masalah komputer tersebut. Penulis pernah mengajar kelas Internet
hanya menggunakan satu komputer saja.
CATATAN :
Hampir semua supplier komputer di Indonesia
akan melakukan install program apapun sesuai dengan permintaan, demi
kepentingan agar komputer tersebut dibeli. Ini adalah salah satu alasan
akan sangat pentingnya perencanaan matang mengenai tujuan pelatihan
dalam rangka nantinya untuk mengetahui program apa saja yang diminta
dan menghemat biaya program (software). Walaupun begitu saya akan
merekomendasikan bahwa paling tidak 20 % (lebih disukai semuanya) dari
komputer anda memiliki CD ROM drive jadi apabila program spesial yang
diminta tetap, maka CD dapat dipergunakan.
Dari pengalaman kami di sekolah-sekolah kelihatannya kebutuhan printer di sekolah minimum 2 (dua).
Desain Dasar Laboratorium Komputer
Tata letak laboratorium ini sangat umum, namun demikian dari sisi pembelajaran hal ini terbatas sekali.
Jarak pandang siswa sangat rendah (khususnya dari bagian belakang).
Gurunya tidak bisa lihat kegiatan siswa.
Jalan bagi guru untuk bekerja dengan siswa secara individual sangat sukar.
Pemasangan kabel sangat sukar dan perlu kabel di bawah lantai (tidak mudah diubah).
Para siswa mudah sekali menabrak peralatan ketika masuk dan keluar (masalah kepercayan).
Jika sala satu computer memerlukan perhatian (atau perbaikan kecil) di muka kelas hal itu akan mengganggu semua siswa.
Tata letak laboratorium ini jauh lebih baik dari sisi pembelajaran.
Para siswa dapat berputar di kursi mereka dan jarak pandang cukup baik.
Guru dapat memantau kegiatan semua siswa selama belajar.
Jalan bagi guru untuk bekerja secara individual dengan siswa sangat bagus.
Pemasangan kable sangat mudah dan mudah pula di modifikasi.
Para siswa tak berhubungan dengan kabel (di belakang) dan dapat di andalkan.
Jika ada komputer yang memerlukan perhatihan (atau perbaikan kecil) siswa lain tak terganggu.
Jika manapun ruang Anda cukup luas bagian tengah memungkinkan guru
untuk mengajarkan prinsip-prinsip pada awal pelajaran atau untuk
mengkaji ulang masalah umum yang banyak atau semua siswa menghadapinya,
jauh lebih lewes.
Komputer Dalam Pendidikan
Teknologi komputer mempunyai kesan penting
dalam hampir segala aspek kehidupan kita.
Buku ini mengandungi lima
bahagian
yang memperkenalkan pelbagai cara komputer digunakan di sekolah.
Bahagian pertama memperihalkan kemungkinan kesan komputer dalam
pendidikan, perkakasan komputer dan sejarah komputer dalam pendidikan.
Bahagian kedua memperincikan applikasi tutor, iaitu latihan amalan,
tutorial, penyelesaian masalah, simulasi dan permainan. Bahagian ketiga
menggariskan aplikasi komputer sebagai alat, applikasi
multimedia/hypermedia dan rangkaian serta telekomunikasi yang menarik
di sekolah. Bahagian keempat bertumpu
kepada
aplikasi komputer sebagai tuti dan bahagian terakhir buku ini memberi
pemahaman kepada guru dan pentadbir menyepadukan perisian dan perkasan
komputer ke dalam kurikulum. Secara keseluruhan buku ini
dapat memberikan maklumat tentang penggunaan teknologi pengajaran berasaskan komputer dalam sistem
pendidikan
dan dapat menjadi sumber rujukan kepada pendidik untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemahiran mereka berkaitan penyepaduan komputer dalam
pendidikan.
Penerapan Teknologi Informasi Dalam Dunia Pendidikan
ABSTRAK
Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan
memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat
dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas.
Perkembangan teknologi informasi memperlihatkan bermunculannya berbagai
jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini. Keadaan seperti ini
dikenal dengan e-life, artinya kehidupan yang sudah dipengaruhi oleh
berbagai kebutuhan elektronik. Pemanfaatan teknologi informasi juga
telah merambah dalam bidang pendidikan. Teknologi ini sangat pantas
digunakan dalam lingkungan akademis karena dapat memberikan berbagai
bantuan yang sangat bermanfaat dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar. Fungsi dari teknologi informasi untuk pendidikan adalah untuk
menjamin kualitas pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan teknologi
informasi dalam proses pendidikan, dengan sasaran yang secara cermat
dipilih, bahan ajar yang berkualitas, serta metodologi pengajaran yang
tepat, akan mampu mendukung proses pemerataan dan mengurangi
kesenjangan antar daerah. Pencapaian tujuan ini mampu mendukung proses
pemerataan dan mengurangi kesenjangan antar daerah.Kata kunci: Internet,
mutu pendidikan, teknologi informasi, world wide web, e-learning
PENDAHULUAN
Sebenarnya permasalahan inti pada dunia pendidikan sangat komplek
Berbagai hal dapat saja dipersalahkan sebagai pokok masalah yang
menghambat kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Namun demikian,
kecacatan yang dengan jelas dapat kita temukan adalah proses belajar
mengajar yang masih menggunakan sistem konvensional yang mengandalkan
tatap muka antara guru dan murid, dosen dengan mahasiswa, pelatih
dengan peserta latihan, bagaimanapun merupakan sasaran empuk yang
paling mudah menjadi sasaran bagi suara-suara kritis yang menghendaki
peningkatan kualitas pada dunia pendidikan. Sehingga diperlukan solusi
yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan
dengan mutu pendidikan sekarang.
Pada dasarnya atmosfer pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga
komponen pembelajaran utama, yakni siswa, kompetensi guru, dan
fasilitas pembelajaran. Ketiga prasyarat tersebut pada akhirnya
bermuara pada area proses dan model pembelajaran. Model pembelajaran
yang efektif antara lain memiliki nilai relevansi dengan pencapaian
tujuan pembelajaran dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas
guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar mandiri selain
dapat menarik perhatian siswa dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum
kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi
informasi.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan sistem konvensional sudah
tidak efektif sebab dianggap sangat lambat dan tidak seiring dengan
perkembangan teknologi informasi dimana pertukaran informasi menjadi
semakin cepat dan instan. Sehingga ketidakefektifan adalah kata yang
paling cocok untuk sistem ini. Sistem konvensional seharusnya sudah
ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia sebagai
bentuk kemajuan teknologi informasi. e-Education, istilah ini mungkin
masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education)
ialah istilah penggunaan teknologi informasi di bidang pendidikan.
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk
mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,
memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang
berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan
merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data,
sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang
lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan
agar data dapat disebar dan diakses secara global.
Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan alasan untuk mendukung
pengembangan dan penerapan teknologi informasi untuk pendidikan dalam
kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia.
Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan banyak
pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang
seringkali tidak bersahabat. Teknologi informasi sangat mampu dan
dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meningkatkan dan
meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab teknologi informasi yang
mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh
ruang, jarak dan waktu sehingga semua yang diperlukan akan dapat
disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja.
Kemudahan itu merupakan salah satu manfaat yang didapatkan dari
globalisasi yang melibatkan integrasi di berbagai bidang di antarannya
pendidikan dan teknologi. Sumbangsih pemikiran dari dunia pendidikan
telah melahirkan modernisasi di segala bidang kehidupan masyarakat
dunia saat ini. Berhubungan dengan hal itu, kehadiran teknologi telah
meningkatkan kualitas dan keampuhan pendidikan itu sendiri. sebagaimana
empat pilar pendidikan yang di cetuskan oleh Unesco antara lain
learning to know, learning to do, learning to be, dan learning
together.
Beberapa penerapan teknologi informasi yang mungkin digunakan di
sekolah diantaranya adalah : Jaringan Komputer Lokal (Local Area
Network), Koneksi ke Internet, Laboratorium Komputer, Sistem Informasi
yang berkaitan dengan kegiatan sekolah seperti Perpustakaan, Data
Siswa, Bahan Pelajaran, dan lain-lain.
Peranan Komputer dalam Pendidikan Matematik
Pengenalan
Era perkembangan
teknologi masa kini mempengaruhi setiap bidang kehidupan. Aspek
teknologi telah digabungkan dalam kurikulum sekolah sebagai satu daya
usaha ke arah menyemai dan memupuk minat serta sikap yang positif
terhadap perkembangan teknologi. Budaya persekolahan seharusnya diubah
daripada sesuatu yang berdasarkan memori kepada yang berpengetahuan,
berpemikiran, kreatif,dan penyayang dengan menggunakan teknologi
terkini ( KPM, 1997 ). Atas alasan inilah pihak kerajaan melalui
Kementerian Pendidikan berhasrat untuk mengujudkan Sekolah Bestari yang
sekali gus bertindak mengisi agenda perancangan , dan perlaksanaan
Koridor Raya Multimedia ( Multimedia Super Corridor atau MSC ).
Perlaksanaan Sekolah Bestari akan membuka ruang seluas-luasnya kepada
teknologi komputer yang akan membolehkan fleksibiliti dan kepelbagaian
dibina dalam sistem pendidikan. Suasana ini akan mengurangkan jurang
peluang antara mereka yang berada dan berupaya menggunakan teknologi
terkini di rumah, dengan mereka yang kurang berada ( KPM, 1997 ).
Pengajaran Berbantukan Komputer
Perubahan yang
sedang melanda dalam dunia pendidikan kini tentunya akan merubah
kandungan dan reka bentuk kurikulum setiap mata pelajaran ( Jamaludin,
1989; Nik Azis, 1989). Kurikulum matematik juga tidak dapat lari
daripada arus teknologi ini
( Fatimah &
Munirah, 1995; PPK, 1993; Nik Azis, 1989 ). Pendidikan komputer dalam
kurikulum melibatkan tiga peranan penting (Nik Azis, 1989 );
1. Pembelajaran tentang komputer perisian, perkakasan dan pengaturcaraan komputer
2. Penggunaan komputer untuk menyelenggara dan memproses data
- memproses data penyelidikan
- memproses perkataan
3.Penggunaan komputer untuk membantu proses pengajaran dan pembelajaran
- pengaturan murid
- pengajaran dan pembelajaran berbantukan komputer ( PPBK ).
Pengajaran dan
pembelajaran berbantukan komputer (PPBK) ialah aturcara komputer yang
menggunakan teknik-teknik kepintaran buatan untuk membantu seseorang
belajar ( Jamaluddin, 1989 ). Mikrokomputer digunakan untuk
menyelenggara aktiviti pengajaran dengan berpandu kepada program yang
dibentuk oleh penulis perisian. Murid berinteraksi dengan program
komputer atau perisian melalui terminal ( Nik Azis, 1989 ).
Dalam pengajaran
berbantukan komputer ( CAI ), komputer boleh dianggap sebagai tutor
atau guru. Dalam proses pengajaran sebenar dalam bilik darjah, guru
berperanan sebagai pengajar (instructor), penerang (explaner) dan
pemudahcara (facilitator). Semua peranan ini boleh diambil alih oleh
komputer dalam CAI ( Abd. Rahman, 1995 ). Pengajaran berbantukan
komputer melibatkan sistem tutorial, permainan dan simulasi di samping
aktiviti latih tubi ( PPK, 1993; Jamaludin, 1989 ).
Komputer Dalam Pendidikan Matematik
Penggunaan
komputer dalam pengajaran matematik dapat memperkembang dan
memperkayakan lagi tajuk yang diajar. Lebih seabad yang lalu, NCTM
(National Council of Teachers’ of Mathematics, 1980) mencadangkan
supaya pengajaran matematik mengambil peluang luas yang ditawarkan oleh
komputer. Cockcroft (1982) menyarankan bahawa penggunaan komputer
dalam pengajaran matematik bukan sahaja boleh memperbaiki kualiti
pengajaran matematik malah penggunaan komputer juga boleh merubah
kepentingan sesuatu tajuk dalam silibus matematik. Keadaan yang sama
juga mungkin wujud dalam pengajaran dan pembelajaran matapelajaran lain
di sekolah. Aktiviti penyelesaian masalah adalah bahagian terpenting
dalam pendidikan matematik. Pencapaian yang tinggi dalam matematik
tidak bermakna jika seseorang pelajar tidak mampu melakukan proses
penyelesaian masalah. Laporan Cockcroft (1982) menegaskan bahawa
masalah matematik harus diterjemahkan kepada sebutan dan bahasa
matematik sebelum ianya diselesaikan. Langkah terjemahan seperti ini
memerlukan fahaman yang lengkap terhadap struktur konsep yang terkandung
dalam masalah tersebut. Keadaan ini telah menyebabkan kesukaran
pembelajaran di kalangan setengah-setengah pelajar. Masalah dan
kesukaran ini boleh diatasi melalui penggunaan komputer ( Al Ghamdi,
1987; Lim, 1989 ).
Dalam beberapa
kajian yang telah dijalankan (Funkhouser, 1993; Henderson and
Landersman, 1992, Chazan, 1988; McCoy, 1991; Al Ghamdi, 1987) didapati :
- pelajar yang menggunakan
komputer dalam matematik mempunyai sikap yang lebih positif terhadap
dirinya sebagai ahli matematik dan berkeupayaan menyelesaikan masalah
yang lebih kompleks.
- Perisian komputer yang digunakan
dalam proses pengajaran akan dapat membantu pelajar memahami konsep
dan prinsip matematik dengan mudah dan berkesan
- Pencapaian pelajar dalam peperiksaan akhir menunjukkan peningkatan yang ketara
- Kumpulan yang belajar
berbantukan komputer mempunyai kemampuan mengekalkan maklumat dalam
jangka masa yang lebih lama dan dapat menggunakannya dalam
bidang-bidang lain.
Kelembapan dan
kebantutan perkembangan CAI dalam pendidikan matematik khususnya, pada
pertengahan tahun 70 an hingga 80 an adalah disebabkan oleh kos
perkakasan komputer yang terlalu tinggi, bilangan perisian yang
sedikit, kemahiran dan pengetahuan tentang komputer yang rendah dan
tidak kurang juga kebimbangan dan kurang keyakinan di kalangan pendidik
( PPK, 1993 ). Walau bagaimanapun keadaan tersebut telah berubah, di
mana harga komputer telah banyak menurun dan mampu dibeli oleh ramai
orang serta berbagai kursus telah dan sedang dianjurkan oleh pihak
kementerian untuk memberi kesedaran, keyakinan, pengetahuan serta
kemahiran dalam penggunaan komputer.
Dalam pendidikan matematik, komputer boleh berperanan untuk melaksanakan aktiviti-aktiviti berikut
i. Penghasilan Bahan Kurikulum
ii. Latih Tubi
iii. Tutorial
iv. Ulangkaji
v. Pemulihan dan Pengayaan
vi. Simulasi
vii. Pengiraan
viii. Alat Bantu Mengajar
ix. Tutee
Penggunaan spreadsheet
Terdapat banyak
kajian tentang penggunaan spreadsheet dalam pengajaran matematik.
Kajian-kajian yang telah dijalankan mencadangkan berbagai cara
penggunaan spreadsheet dalam pengajaran matematik ( Janet, 1988; Lim,
1995; Fatimah & Munirah, 1995). Ada juga kajian yang mencadangkan
penggunaan spreadsheet dapat mengurangkan kesilapan konsep tentang
sesetengah konsep matematik ( Catterall and Lewis, 1985 dalam Fatimah
& Munirah, 1995 ). Mungkin guru-guru di Malaysia juga boleh
menggunakan speadsheet dalam pengajaran matematik sementara menunggu
pakej CAI yang sesuai.
Penggunaan multimedia
Multimedia adalah
teknologi maklumat terkini yang membenarkan integrasi dan manipulasi
video, audio, teks, grafik dan animasi ( Baharuddin & Mohd, 1995 ).
Multimedia berasaskan komputer boleh menjadikan proses pendidikan
suatu pengalaman yang menyeronokkan dan menarik di samping membantu
pelajar memahami sesuatu konsep dengan cepat dan mudah ( Brown &
Bush, 1992; Toh & Ng, 1994; Rio & Kasiran, 1994; Baharuddin
& Mohd, 1995 ). Penggunaan multimedia mempunyai peranan penting
dalam pendidikan matematik. Antaranya ialah multimedia boleh;
1. memberi peluang kepada pelajar untuk belajar sendiri berdasarkan kemampuan masing-masing.
2. memudah dan mempercepatkan kefahaman sesuatu konsep matematik.
3. menjadikan aktiviti pembelajaran menarik dan menyeronokkan
4. membekalkan lebih banyak maklumat dan pengetahuan kepada pelajar
5. membantu pelajar mengulangi sesuatu isi pelajaran berulang kali
Penggunaan Internet
Internet atau ‘
International Network of Networks ‘ ialah sebuah rangkaian komputer
diperingkat antarabangsa. Ia mengandungi lebih daripada 50 ribu
rangkaian komputer di seluruh dunia, lebih daripada 6.6 juta komputer
hos dan lebih daripada 50 juta pengguna dari lebih daripada 160 buah
negara ( Zoraini, 1995 ). Dalam rangkaian Internet, terdapat berbagai
jenis sumber yang berjuta-juta bilangannya. Sumber ini termasuklah
kertas persidangan, artikel majalah, perisian komputer, gambar, video
dan sebagainya. Seseorang guru boleh mendapat rancangan pengajaran dari
guru lain atau pun dari komputer yang menyimpannya. Atau pun sumber
pengajaran seperti peta, gambar dari angkasa lepas dan sebagainya boleh
didapati dalam Internet.
Di dalam Internet
terdapat lebih daripada 8 000 kumpulan diskusi eletronik. Kumpulan ini
mungkin terdiri dari beberapa orang sehinggalah ke beberapa ribu orang
yang berbincang tentang perkara yang sama, termasuklah tentang
matematik. Topik-topik perbincangan bermacam-macam dari Antropologi
sehinggalah ke Zoologi. Bagi guru matematik, terdapat beberapa kumpulan
diskusi eletronik yang dapat disertai secara percuma. Antaranya;
IMSE-L dan MATHEDCC. Selain daripada diskusi eletronik, WWW (World Wide
Web) juga menyediakan berbagai sumber pengajaran dan pembelajaran ,
khususnya dalam bidang matematik ( Zoraini, 1995; Lee, 1996 )
Beberapa tajuk yang boleh diperolehi dari WWW :
- Global Network Navigator – Mathematic
- Math Section
- Mathematics – Singapore Min of Education
- Math Launchpad
- Mathematics Archives – K12 Internet Sites
- K-8 dan K-12 Mathematics Education
- Math and Numbers
- The Math Forum
- Ask Dr Math
- Math Archives
- Internet Math Class
- Forum Guru dan Pelajar – TM School On Line
- Nota dan Soalan Latihan ( UPSR, PMR dan SPM ) – TM School On Line
Menyedari potensi
dan keupayaan Internet sebagai wadah komunikasi dan interaksi
eletronik yang berkesan maka Kementerian Pendidikan telah mengambil
langkah untuk
memperkenalkan
Internet kepada para pelajar dan pendidik. Dengan kerjasama serta
bantuan kepakaran daripada MIMOS, Kementerian Pendidikan telah
melancarkan projek Jaringan Pendidikan ( Sulaiman, 1996 ). Dalam
perlaksanaan projek ini, Kementerian Pendidikan telah
- menyediakan kemudahan dan
perkhidmatan rangkaian kepada para pelajar dan golongan pendidik di
sekolah dan maktab-maktab perguruan
- melatih dan membimbing guru-guru dengan kemahiran menggunakan kemudahan yang disediakan
- merancang, melaksana dan
menyelia pelbagai aktiviti pendidikan berasaskan penggunaan rangkaian
meluas ke arah mengembangkan minda dan pengetahuan di samping
menggalakkan perlaksanaan pelbagai aktiviti kreatif dan inovatif
berasaskan teknologi maklumat
Segala kemudahan
yang sedia ada perlu dimanfaatkan sepenuhnya. Bidang teknologi maklumat
yang menjadi sebahagian daripada kandungan sukatan kursus akan memberi
peluang kepada guru pelatih untuk menambahkan pengetahuan dan
meningkatkankemahiran dalam penggunaan komputer, khususnya untuk
aktiviti pengajaran dan pembelajaran. Tambahan pula pada hari ini,
terdapat berbagai program pendidikan yang dicipta dan dipasarkan, yang
meliputi hampir semua peringkat.
Penutup
Penggunaan
komputer dalam pendidikan adalah merupakan langkah awal ke arah
mewujudkan masyarakat berteknologi selaras dengan hasrat Wawasan 2020.
Institusi pendidikan sebagai wadah terpenting perlu mengalami perubahan
terlebih awal berbanding dengan institusi-institusi lain ke arah
mencapai matlamat tersebut. Potensi dan kecanggihan teknologi perlu
dimanfaatkan sepenuhnya.
Untuk mancapai
matlamat pendidikan di Malaysia, satu anjakan paradigma diperlukan
dalam cara pemikiran dan penggunaan teknologi ( Wan Zahid, 1996 ).
Usaha perlu dibuat dan penglibatan secara menyeluruh perlu dilakukan
sehingga kita mampu mereka dan menghasilkan sesuatu mengikut acuan
pemikiran kita sendiri, tanpa bersandar dan berharap kepada orang lain.
Selagi kita bertaraf ‘pengguna’, selagi itulah kita tidak mampu
merubah apa-apa.